Friday, July 11, 2014

Skoliosis Pada Ibu Hamil

skoliosis pada ibu hamil
Pada kasus skoliosis pada ibu hamil, ibu tetap dapat menjalani kehamilan dengan nyaman dan melakukan persalinan normal. Skoliosis adalah kelengkungan tulang belakang yang abnormal ke arah samping, depan, dan rotasi (berputar), yang dapat terjadi pada segmen servikal (leher), torakal (dada), ataupun lumbal (pinggang). Walaupun begitu, tentu ruang rahim sangat aman, tidak akan terjadi pengurangan volume ataupun perubahan bentuk. Jadi, siapa bilang ibu dengan skoliosis tidak bisa hamil? Selama ibu dan suami subur tetap bisa hamil. Ibu pun dapat menjalani kehamilannya dengan nyaman, bahkan melahirkan dengan cara normal alias per vaginam.

Memang benar, skoliosis yang dialami tiap-tiap orang itu berbeda. Bagi ibu dengan skoliosis dibawah 40 derajat, tidak ada masalah untuk hamil. Hanya saja, efek hamil pada ibu skoliosis yang derajatnya besar jauh lebih berat daripada ibu yang derajat skoliosisnya kecil. Begitu pula dengan keluhan sakit punggung. Jika boleh dibandingkan dengan perempuan normal (tanpa skoliosis) yang hamil, sakit punggung yang dirasakan oleh ibu skoliosis derajatnya lebih tinggi dibandingkan ibu normal.

Hal yang sama terjadi pada keluhan umum lainnya, seperti : pegal-pegal, berbeda-beda kejadiannya pada tiap ibu skoliosis. Itu semua bergantung pada seberapa besar derajat bengkoknya tulang belakang dan usia kehamilan.

Gampangnya : semakin besar derajat skoliosisnya, ibu akan lebih sering pegal dan sakit tulang belakang, dan hal tersebut akan bertambah seiring dengan semakin besarnya perut. Pun demikian halnya dengan keseimbangan tubuh. Memang benar, perempuan normal pun saat hamil, keseimbangannya akan terganggu. Namun pada ibu skoliosis, saat tidak hamil saja keseimbangan badannya kurang baik, jadi saat hamil bisa diprediksi keseimbangan badannya akan semakin terganggu.

 

 

Berpeluang Memiliki Anak Skoliosis


Walau bukan penyakit atau kelainan turunan juga genetika, namun ibu hamil dengan skoliosis berpeluang mempunyai anak skoliosis juga. Terjadinya skoliosis pada si kecil dapat dideteksi sejak bayi, bisa juga terdeteksi setelah dia besar. Jadi, langkah yang terbaik, saat anak lahir, perhatikan baik-baik perkembangan tulang belakangnya. Jika ada keraguan atau keanehan, segera konsultasikan ke dokter ortopedi.

 

 

Mereduksi Risiko


Walau kendala-kendala yang akan dihadapi ibu hamil dengan skoliosis tidak jauh berbeda dari yang dihadapi ibu normal, tapi ada baiknya kendala tersebut dikoreksi. Caranya dengan berolahraga dan olahraga yang tepat untuk ibu skoliosis adalah olahraga air. Ibu bisa berenang atau melakukan aquarobik / senam di air, ataupun sekedar jalan-jalan di dalam kolam.

Senam hamil juga sangat baik dilakukan. Setiap mengikuti kelas senam hamil agar melakukannya dengan sungguh-sungguh tetapi tetap harus relaks. Selain itu, disela-sela kegiatan sehari-hari, jangan lupa lakukan stretching. Hal ini baiknya dilakukan sebelum ibu merasakan sakit punggung, pegal, atau timbul keluhan di daerah belakang badan. Jadi, saat ibu di kantor, setiap 15-30 menit sekali, baiknya melakukan stretching atau sekedar jalan-jalan di ruangan.

Aneka kegiatan olahraga tersebut bertujuan menstimulasi otot, khususnya punggung, supaya lebih kuat dan bisa diandalkan untuk membantu tulang belakang menopang beban berat badan dan kehamilan, selain juga untuk membuat saraf-saraf tidak kaku. Kemudian, saat sakit timbul dan menjadi, segeralah istirahat. Paling baik berbaring ke kanan atau ke kiri. Boleh juga senyamannya ibu. Suami, jika mendapati istri seperti ini, lakukanlah stimulasi dengan memberikan pijatan lembut dibantu penghangat.

Hal lain yang dapat ibu lakukan adalah cukupi kebutuhan gizi selama hamil sesuai dengan kebutuhan. Sementara yang harus dihindari adalah : mengangkat atau membawa beban berat; terlalu capek; terlalu jauh / lama berjalan; terlalu lama berdiri; dan hentikan kegiatan / olahraga yang bersifat high impact.

 

 

Tak Perlu Menggunakan Breach


Untuk menghindari atau mengatasi aneka keluhan saat hamil, ada juga yang menyarankan menggunakan breach selama kehamilan. Sebenarnya, penggunaan breach efektif dilakukan pada ibu di bawah usia 20 tahun karena tulangnya masih tumbuh. Jika ibu saat hamil usianya sudah di atas 20 tahun, tak perlu lagi pemasangan breach. Selain tidak berguna, juga akan membuat napas ibu semakin sesak. Ingat, orang dengan skoliosis sering merasakan sesak napas, apalagi ibu hamil. Bisa dibayangkan, karena hamil saja, napas sudah sesak, apalagi jika ditambah menggunakan breach yang jelas-jelas menekan dada.

 

 

Dibantu Dokter Tulang


Saat persalinan, spesial untuk ibu skoliosis, dokter kandungan akan meminta bantuan dokter ortopedi untuk melakukan diagnosis, apakah ibu mampu melakukan persalinan per vaginam atau tidak. Juga, diminta bantuannya dalam proses persalinan, khususnya persalinan per vaginam.

Kenapa ini penting? Karena ibu dengn skoliosis rentan mengalami  HNP atau saraf kejepit di tulang punggung, walau memang kondisi ini tidak terjadi pada semua ibu hamil skoliosis. Jadi, jangan takut untuk melakukan persalinan per vaginam karena ibu skoliosis pun bisa melakukannya.


Jika ibu membutuhkan informasi atau bacaan lebih lanjut mengenai proses kehamilan dan melahirkan, ibu dapat mengunjungi situs berikut ini ... PANDUAN LENGKAP UNTUK IBU HAMIL.

No comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.